Langsung ke konten utama

PROSES KEMUNDURAN VOC (END)

 

A.    Proses Peralihan dan Runtuhnya VOC

Pasca penandatangan Perjanjian Paris 1783 yang mengakhiri  Perang antara Inggris dengan Amerika Serikat dan sekutunya, salah satunya Belanda. Belanda melanjutkan penandatangan perjanjian damai dengan Inggris di tahun 1784 dimana Inggris dan Belanda yang memiliki banyak daerah Koloni di Eropa melakukan perdamaian khususnya untuk tidak saling merebut wilayah koloni yang telah dikuasainya. Sebagai dampak dari perjanjian damai tersebut, Perancis memandang Belanda sebagai daerah yang membahayakan. Karena bisa terjadi Inggris akan memanfaatkan wilayah Belanda untuk menyerang Perancis. Apalagi Raja Willem V dari dinasti oranye terkenal sangat dekat dengan Inggris.

Melihat hal itu, tindakan yang diambil Perancis untuk mencegah kemungkinan terburuk Inggris menggunakan daerah Belanda untuk menyerang Perancis adalah dengan menyerang terlebih dahulu Belanda dan memanfaatkan kaum patriot yang tidak suka dengan dinasti Oranye berkuasa di Belanda. Penyerangan Perancis berhasil menekan dan menguasai wilayah Belanda sehingga pada tahun 1794, Willem V berusaha mengajak berunding Perancis namun menemui jalan buntu dan gagal. Kemudian setelah itu Perancis mendirikan pemerintahan Boneka di Belanda yakni Republik Bataaf.

Selain kondisi negara Belanda yang terjadi di Eropa mempengaruhi kondisi VOC, kondisi internal VOC sendiri juga sangat berpengaruh atas runtuhnya VOC. Sejak pada tanggal 27 Maret 1749, parlemen Belanda mengeluarkan Undang-undang yang menetapkan bahwa Raja Willem V adalah penguasa tertinggi VOC. Dengan demikian, VOC berada di bawah wewenang Raja dan raja menjadi komandan tentara VOC. Kemudian anggota pengurus yang dikenal sebagai “Dewan Tujuh Belas” yang semula dipilih oleh parlemen dan provinsi pemegang saham menjadi tanggung jawab raja. Dengan raja menjadi penguasa tertinggi ini membuat kepentingan pemegang saham menjadi terabaikan. Para pengurus VOC tidak lagi berpikir untuk memajukan perdagangan VOC lagi, melainkan sudah berpikiran untuk memperkaya diri sendiri.

Selain itu juga kondisi para pegawai VOC mulai menunjukkan sikap gila hormat yang memperkuat sikap-sikap feodalisme. Posisi jabatan dan symbol-simbol kehormatan dilengkapi dengan hadiah dan pemberian upeti. System upeti ini terjadi dikalangan pejabat VOC dari pejabat bawahan ke pejabat atasnya. Apalagi semua upeti sering berkaitan dengan pergantian jabatan di tubuh VOC. Semua hal ini menimbulkan korupsi di tubuh VOC. Kehidupan para pegawai yang bermewah-mewahan, gila hormat, dan melakukan korupsi membuat kas VOC mengalami kemerosotan yang berakibat beban hutang semakin tinggi, sehingga akhirnya VOC gulung tikar dan Bangkrut pada tanggal 31 Desember 1799. Setelah VOC bangkrut, kekuasaan atas Hindia Belanda diambil alih oleh pemerintah Belanda yang pada tahun 1905 dikuasai oleh pendudukan Perancis dan dibentuklah Republik Bataaf.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lekaslah Pulang! Jaga Mental Itu Penting

O ktober memasuki minggu ketiganya di hari ini di tanggal 20. Aku mencoba merenung apa saja yang sudah terjadi dalam 19 hari kebelakang. Memang kalau dipikir-pikir aku sedang memasuki masa burnout. Aku semakin menyadari bahwa burnout ini selalu datang ketika tahun memasuki masa sepertiga akhir. Yah sepertiga kata-kata krusial memang, didalam keyakinanku ada sepertiga malam yang dipercaya tempatnya untuk mengadu kepada yang punya alam semesta agar semuanya dapat didengarkan dan didapatkan solusinya atau jawabanya. Masalah datangnya jawaban pun hanya sang pencipta yang tahu. Tugas sebagai manusia ya hanya meminta. Namun apalah daya sang pendosa ini malah sibuk mengadu, mengetik di blog ini dalam sepertiga malamnya.hehe. Kalau boleh merenungi dan mengeluarkan, ternyata banyak yang membuatku burnout dan aku melampiaskan ke hal-hal lain. Paling umum pasti hal itu membuat produktifitas menurun. Badan ini terasa lelah menghadapi ketidakstabilan kebijakan yang ada di tempat kerja. Saya merasa ...

Selamat Hari Senin Untuk Kesekian Kalinya

Hari ke 293 di tahun 2025, bertepatan dengan hari senin 20 Oktober 2025. Awal pekan yang cerah walaupun suasana hati sedang mendung sebenarnya perkara semalam tim favorit dari kota Merseyside harus takluk dari rival Manchester merahnya. Ya begitulah terkadang kehidupan menciptakan keseimbangan dengan caranya sendiri. Seperti biasa awal pekan disambut dengan pelaksanaan upacara bendera. Pagi ini upacara dipandu oleh kelas XII Sosial 3 dan wali kelasnya sebagai pembina. Sebuah rutinitas biasa khas warisan pendudukan Jepang dimana penduduk desa disuruh berkumpul disebuah tanah lapang dan menghadap ke matahari terbit, hal ini pada saat itu dinamakan sekerei. Sama seperti kebanyakan orang aku menganggap senin itu sangat tidak mengasyikkan untuk disambut. Sebuah hari yang terbiasa kulalui dengan langkah berat. Apalagi harus berhadapan dengan suasana lingkungan   yang sungguh menjemukan. Berhadapan dengan kebijakan-kebijakan setengah matang layaknya tanpa pertimbangan lebih banyak da...

Haaland, Penalti, dan Malam yang Ingin Saya Lupakan

Mo Salah gagal membantu Liverpool melaju di Piala FA Sabtu 4 April 2026, malam yang akan hangat bagi fans Liverpool karena akhirnya Liverpool kembali bermain setelah dua minggu absen karena jeda internasional yang membosankan. Persiapan untuk menonton pun pasti dilakukan apalagi malam ini yang dihadapi adalah rival perburuan juara dalam satu dekade terakhir, yaitu Manchester City. Tentu saja hati sangat berdebar karena ini pertandingan besar, karena menurutku ini sangat layak menjadi pertandingan final. Walaupun kondisi Liverpool belakangan sedang mengalami masa sulit dibawah asuhan Arne Slot. Maka dari itu menyambut laga ini sebenarnya perasaan campur aduk, tentu saja inginnya menang, tapi ada rasa pesimis mengingat performa belakangan ini di Liverpool. Namun setidaknya aku berharap Liverpool bisa memberikan semangat berjuang yang luar biasa dalam pertandingan ini. Harapan sempat ada ketika kick off dimulai Liverpool mampu mengimbangi City bahkan beberapa kali mampu melakukan serangan...