Langsung ke konten utama

LIVERPOOL, SANG JUARA YANG KEHILANGAN DAYA

Menurunnya performa Liverpool FC bebeberapa match sebelumnya membawa berbagai pertanyaan terutama bagi fans Liverpool, sebenarnya apa yang terjadi dengan klub asuhan Jurgen Klopp ini? Mengingat belum satu tahun mereka mengangkat trofi EPL yang dinanti-nanti selama 30 tahun oleh para Liverpudlian dengan capaian fantastis dengan jarak poin yang sangat lebar dari peringkat kedua Manchester City. Lalu apa yang terjadi sebenarnya dengan performa Liverpool musim 2020/2021 ini?

SQUAD BERMASALAH DENGAN KEBUGARAN

Squad inti Liverpool musim ini tidak jauh berbeda dengan musim 2019/2020. Praktis Liverpool hanya kehilangan pemain-pemain yang musim lalu mengisi bangku cadangan seperti Dejan Lovren ke Zenit St. Petersburg (12 Juta Pound) dan Rhian Brewster ke Sheffield United (26 juta Pound). Sisanya seperti Adam Lallana dan Nathaniel Clyne pergi karena tak diperpanjang kontrak oleh manajemen.

Namun, Liverpool juga menghadirkan muka baru untuk memperdalam squad mereka. Yang paling banyak mendapatkan perhatian adalah datangnya Thiago Alcantara dari Bayern Muenchen (22 Juta Pound) dan Diego Jota dari Wolves (44,70 Juta Pound). Ketika musim 2020/2021 dimulai pun tidak ada hambatan bagi Liverpool dengan Squad yang ada. Walau sempat kewalahan di Match pertama saat menghadapi Leeds, tapi anak asuh Jurgen Kloop ini mampu menang dengan skor tipis 4-3 dari anak asuh Marcelo Bielsa yang musim ini baru promosi dari Championship division.

Malapetaka menurunnya performa Liverpool hadir ketika pemain-pemain inti mereka mondar-mandir meja perawatan akibat cedera dan terkena infeksi virus Covid19. Dan yang paling kehilangan besar tentu saja cedera panjang Virgil van Dijk akibat terjangan kiper Everton, Jordan Pickford, yang membuat ACL van Dijk robek. Semenjak itu performa Liverpool mulai menurun dan kesulitan meraih kemenangan. Pemain-pemain yang ada di bench yang disiapkan untuk memberi kebugaran dan daya saing tampil masih jauh dari harapan.

GAYA MAIN YANG MONOTON

Selain permasalahan kebugaran pemain, gaya main yang diterapkan oleh klopp juga mulai dapat diantisipasi oleh klub-klub EPL sehingga tidak jarang Liverpool harus kehilangan poin dari tim-tim yang di atas kertas dapat mereka kalahkan. Minimnya inovasi, kreatifitas, dan terlalu bergantung dengan duo wing back serta 3 pemain depan membuat permainan Liverpool seakan mudah ditebak dan ditemukan obatnya. Datangnya Thiago dari Bayern diharapkan memberikan dimensi permainan yang beragam dari lini tengah, sayangnya di sepanjang paruh pertama, Thiago lebih sering bolak-balik ruang medis Liverpool dari pada bergerak maju mundur mengatur serangan Liverpool.

Kondisi di atas diperparah dengan cederanya Bek-bek andalan Liverpool selama ini menyusul VVD, yaitu Matip dan Joe Gomez yang membuat Liverpool mengalami krisis Bek. Klopp memang menemukan solusi dengan menjadikan Fabinho dan Henderson sebagai 2 palang pintu LFC, namun hal tersebut juga berdampak pada menurunnya performa lini tengah LFC yang seakan kehilangan keseimbangannya. Tentu saja itu pasti berdampak besar mengingat peran mereka berdua di lini tengah sangat vital di musim lalu ketika mereka meraih juara secara fantastis. Seakan ada yang kurang dalam memutus serangan lawan yang biasa dilakukan Fabinho sebagai DM dan kreatifitas Henderson sebagai pengatur ritme permainan. Memang untuk mengatasi krisis Bek, Liverpool memanfaatkan menit-menit akhir bursa transfer musim dingin dengan mendatangkan dua bek, Ben Davis dari Preston North End dan Ozan Kabak dari Schalke04.

Dengan kondisi tersebut apakah Liverpool masih dapat bersaing di papan atas EPL yang sudah memasuki paruh kedua. Apalagi dengan kekalahan dari Manchester City membuat poin Liverpool menjadi semakin jauh dari Cityzen yang semakin berkuasa di peringkat satu dengan beda 10 poin lebih baik dan City masih menyimpan tabungan satu match. Memang EPL baru memainkan 23 pertandingan namun secara matematis peluang Liverpool masih terbuka walau perlu keajaiban dan bagaimana reaksi para pemain terhadap kekalahan semalam melawan city. Semoga para pemain dan klopp bisa memberikan perubahan di pertandingan selanjutnya dan mengembalikan Liverpool ke posisi terbaik Premier League.

YNWA
twitter : @eko13ramadhan
08022021

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lekaslah Pulang! Jaga Mental Itu Penting

O ktober memasuki minggu ketiganya di hari ini di tanggal 20. Aku mencoba merenung apa saja yang sudah terjadi dalam 19 hari kebelakang. Memang kalau dipikir-pikir aku sedang memasuki masa burnout. Aku semakin menyadari bahwa burnout ini selalu datang ketika tahun memasuki masa sepertiga akhir. Yah sepertiga kata-kata krusial memang, didalam keyakinanku ada sepertiga malam yang dipercaya tempatnya untuk mengadu kepada yang punya alam semesta agar semuanya dapat didengarkan dan didapatkan solusinya atau jawabanya. Masalah datangnya jawaban pun hanya sang pencipta yang tahu. Tugas sebagai manusia ya hanya meminta. Namun apalah daya sang pendosa ini malah sibuk mengadu, mengetik di blog ini dalam sepertiga malamnya.hehe. Kalau boleh merenungi dan mengeluarkan, ternyata banyak yang membuatku burnout dan aku melampiaskan ke hal-hal lain. Paling umum pasti hal itu membuat produktifitas menurun. Badan ini terasa lelah menghadapi ketidakstabilan kebijakan yang ada di tempat kerja. Saya merasa ...

Selamat Hari Senin Untuk Kesekian Kalinya

Hari ke 293 di tahun 2025, bertepatan dengan hari senin 20 Oktober 2025. Awal pekan yang cerah walaupun suasana hati sedang mendung sebenarnya perkara semalam tim favorit dari kota Merseyside harus takluk dari rival Manchester merahnya. Ya begitulah terkadang kehidupan menciptakan keseimbangan dengan caranya sendiri. Seperti biasa awal pekan disambut dengan pelaksanaan upacara bendera. Pagi ini upacara dipandu oleh kelas XII Sosial 3 dan wali kelasnya sebagai pembina. Sebuah rutinitas biasa khas warisan pendudukan Jepang dimana penduduk desa disuruh berkumpul disebuah tanah lapang dan menghadap ke matahari terbit, hal ini pada saat itu dinamakan sekerei. Sama seperti kebanyakan orang aku menganggap senin itu sangat tidak mengasyikkan untuk disambut. Sebuah hari yang terbiasa kulalui dengan langkah berat. Apalagi harus berhadapan dengan suasana lingkungan   yang sungguh menjemukan. Berhadapan dengan kebijakan-kebijakan setengah matang layaknya tanpa pertimbangan lebih banyak da...

Haaland, Penalti, dan Malam yang Ingin Saya Lupakan

Mo Salah gagal membantu Liverpool melaju di Piala FA Sabtu 4 April 2026, malam yang akan hangat bagi fans Liverpool karena akhirnya Liverpool kembali bermain setelah dua minggu absen karena jeda internasional yang membosankan. Persiapan untuk menonton pun pasti dilakukan apalagi malam ini yang dihadapi adalah rival perburuan juara dalam satu dekade terakhir, yaitu Manchester City. Tentu saja hati sangat berdebar karena ini pertandingan besar, karena menurutku ini sangat layak menjadi pertandingan final. Walaupun kondisi Liverpool belakangan sedang mengalami masa sulit dibawah asuhan Arne Slot. Maka dari itu menyambut laga ini sebenarnya perasaan campur aduk, tentu saja inginnya menang, tapi ada rasa pesimis mengingat performa belakangan ini di Liverpool. Namun setidaknya aku berharap Liverpool bisa memberikan semangat berjuang yang luar biasa dalam pertandingan ini. Harapan sempat ada ketika kick off dimulai Liverpool mampu mengimbangi City bahkan beberapa kali mampu melakukan serangan...